
Leptospirosis adalah penyakit bakterial penyebab morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Meskipun penyakit ini endemik di banyak komunitas kumuh di kota ataupun desa serta dapat menyebabkan epidemi sporadik, beban sebenarnya penyakit ini hanya sedikit diketahui. Penyakit ini sering tidak terdiagnosis karena tanda dan gejalanya sulit dibedakan dari penyakit endemis lain serta kurang tersedia laboratorium diagnostik.
Bakteri ini bertahan hidup selama berhari-hari atau berminggu-minggu pada kondisi hangat, lembap, dan sedikit alkali, terutama di air segar yang tenang atau mengalir lambat pada suhu sedang di musim panas serta di tanah yang lembap dan air di daerah tropik, terutama pada musim hujan.
Di daerah tropik, paparan terutama melalui aktivitas pekerjaan seperti bersawah.
Infeksi jarang dari kontak langsung dengan darah, urin, atau jaringan hewan terinfeksi.
Terdapat sekitar 160 spesies hewan yang menjadi tempat perlindungan bakteri tersebut, reservoir yang paling penting adalah tikus.
Transmisi infeksi dari hewan ke manusia biasanya terjadi melalui kontak dengan air atau tanah lembap yang terkontaminasi. Leptospira masuk ke sirkulasi manusia melalui penetrasi kulit terabrasi atau membran mukosa intak (mata, mulut, nasofaring, atau esofagus).
Organ utama yang terkena adalah:
1. ginjal, dengan inflamasi tubulointerstisial difus dan nekrosis tubular,
2. paru, biasanya kongesti, dengan perdarahan intraalveolar fokal atau masif, deposisi linear imunoglobulin dan komplemen pada permukaan alveolar,
3. hati, yang menunjukkan kolestasis terkait perubahan degeneratif ringan pada hepatosit.
Pada pasien yang bertahan hidup, fungsi hati dan ginjal akan sembuh sempurna sesuai dengan ringannya kerusakan struktural pada organ tersebut.
Sistem lain juga dapat terkena, pada kasus berat dapat berupa miokarditis, meningoensefalitis, dan uveitis.
Leptospirosis Anikterik
Fase akut dicirikan oleh demam awitan mendadak, menggigil, nyeri kepala retroorbita, anoreksia, nyeri perut, mual, dan muntah. Demam sering melebihi 40oC dan didahului kekakuan. Terdapat juga mialgia dengan karakteristik nyeri tekan betis, paha, abdomen, dan regio paraspinal (lumbosakral), jika mengenai regio leher dan kuduk akan menyerupai meningitis. Nyeri tekan abdomen dapat menyerupai akut abdomen. Pada kasus ringan demam akan menghilang setelah 3-9 hari.
Injeksi konjungtiva biasanya muncul 2-3 hari setelah awitan demam dan melibatkan konjungtiva bulbi. Tidak ada pus ataupun sekret serosa dan tidak ada perlengketan bulu mata dan kelopak mata. Injeksi ringan sering terlewatkan. Dapat pula ditemukan injeksi faring, splenomegali, hepatomegali, limfadenopati, dan lesi kulit, namun jarang dan tidak jelas.
Sebagian besar pasien menjadi asimptomatik dalam 1 minggu. Setelah beberapa hari (2-3 hari), pada beberapa pasien gejala kembali muncul, disebut fase kedua atau fase imun. Leptospira hilang dari darah, cairan serebrospinal, dan jaringan, namun muncul di urin (leptospiruria). Muncul antibodi IgM, karena itu disebut fase imun. Gejala utama fase ini adalah meningitis pada 50% kasus, meskipun pleiositosis pada cairan serebrospinal dapat ditemukan pada 80-90% pasien pada minggu kedua. Dapat terjadi pula neuritis optik dan neuropati perifer. Uveitis biasanya merupakan manifestasi yang muncul belakangan, 4-8 bulan setelah awitan penyakit.
Leptospirosis Ikterik (Penyakit Weil)
Penyakit Weil merujuk pada leptospirosis berat dan mengancam nyawa, dicirikan oleh ikterus, disfungsi ginjal, dan perdarahan. Meskipun ikterus merupakan tanda utama, kematian bukan disebabkan oleh gagal hati. Prognosis tidak ditentukan oleh derajat ikterus, namun oleh adanya ikterus karena semua kematian pada leptospirosis terjadi pada kasus ikterik. Ikterus tampak pertama kali antara hari kelima hingga kesembilan, intensitas maksimum 4 atau 5 hari kemudian dan terus berlanjut selama rata-rata 1 bulan. Mayoritas pasien memiliki hepatomegali dan nyeri ketok pada perkusi hati menunjukkan penyakit masih aktif.
Perdarahan kadang terjadi pada kasus anikterik tetapi paling sering pada penyakit yang berat. Manifestasi perdarahan yang paling sering adalah purpura, petekie, epistaksis, perdarahan gusi, dan hemoptisis minor. Kematian dapat terjadi akibat perdarahan subaraknoid dan perdarahan masif saluran cerna. Adanya perdarahan konjungtiva sangat berguna untuk diagnostik, dan jika disertai sklera ikterik dan injeksi konjungtiva, merupakan temuan yang sangat sugestif untuk leptospirosis.
Semua bentuk leptospirosis dapat menyebabkan disfungsi ginjal. Gambaran mulai dari yang ringan berupa proteinuria ringan dan abnormalitas sedimen urin hingga berat berupa cedera ginjal akut. Yang sering ditemukan adalah gagal ginjal non-oliguria dengan hipokalemia ringan (41-45% kasus). Anuria total dengan hiperkalemia merupakan tanda prognostik buruk.3 Gangguan kesadaran pada leptospirosis berat biasanya disebabkan oleh ensefalopati uremikum, pada kasus anikterik biasanya disebabkan ensefalitis aseptik. Pada pasien penyakit Weil yang berhasil bertahan, fungsi ginjal akan kembali normal.
Faktor utama penyebab cedera ginjal akut pada leptospirosis adalah nefrotoksisitas langsung dari leptospira dan respons imun yang diinduksi toksin. Adanya leptospira di jaringan ginjal akan memicu proses nefritis interstisial dan nekrosis tubular akut. Pada leptospirosis berat akan dijumpai perubahan status hemodinamik seperti sepsis. Akibat vasodilatasi sistemik, kadar aldosteron dan hormon antidiuretik akan meningkat, sehingga terjadi vasokonstriksi ginjal dan penurunan diuresis. Bilirubin yang tinggi juga menurunkan filtrasi glomerulus dan kemampuan pemekatan urin. Rabdomiolisis yang sering terjadi pada leptospirosis juga dapat menyebabkan cedera ginjal melalui vasokonstriksi ginjal, obstruksi tubulus, dan toksisitas langsung mioglobin.
Komplikasi paru yang paling sering pada leptospirosis adalah sindrom perdarahan paru berat terkait leptospirosis (severe pulmonary hemorrhagic syndrome/ SPHS) dan acute respiratory distress syndrome (ARDS). Komplikasi ini dapat terjadi dengan atau tanpa ikterus ataupun gagal ginjal. Hemoptisis merupakan tanda utama, namun biasanya tidak jelas hingga pasien diintubasi. Faktor risiko komplikasi paru adalah keterlambatan pemberian antibiotik dan trombositopenia pada awitan penyakit.1,3 Perdarahan paru terjadi akibat vaskulitis, juga dapat dikaitkan dengan trombositopenia dan koagulopati konsumtif.7 Kematian akibat leptospirosis terjadi pada 10-15% kasus, biasanya akibat perdarahan paru, gagal ginjal, atau gagal jantung dan aritmia akibat miokarditis.
Pemeriksaan laboratorium dapat menemukan leukositosis (15000-30000), neutrofilia, trombositopenia, dan creatinine phosphokinase yang tinggi. Bilirubin dapat sangat meningkat (predominasi fraksi direk), tetapi transaminase jarang melebihi 3 kali batas atas.1,3,5 Pemanjangan prothrombin time sering terjadi namun mudah dikoreksi dengan vitamin K. Pada gangguan fungsi ginjal ureum dan kreatinin akan meningkat, didapatkan hematuria, piuria, proteinuria (biasanya kurang dari 1 g/24 jam), dan berat jenis urin tinggi. Dapat ditemukan juga hipokalemia akibat kebocoran melalui ginjal dan hipomagnesemia.1 Neutrophil gelatinase associated lipocain (NGAL) akan meningkat pada nekrosis tubular akut dan membantu membedakan dari azotemia prerenal. Rontgen toraks dapat menunjukkan infiltrat paru, efusi pleura, atau pneumonitis difus.
Sumber : https://media.neliti.com/media/publications/401448-leptospirosis-7ccd47e3.pdf