
Penyakit Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik emerging yang disebabkan oleh virus Nipah,
anggota genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae. Virus ini memiliki reservoir alami pada kelelawar buah (Pteropus sp.),
yang dapat menularkan virus ke manusia secara langsung atau melalui perantara hewan lain (seperti babi)
serta melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus (misalnya buah atau nira).
Penularan virus Nipah dapat terjadi ketika manusia bersentuhan langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi,
seperti air liur, darah, dan urine. Selain itu, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa seseorang bisa terinfeksi Virus Nipah
melalui konsumsi daging hewan yang terinfeksi, terutama jika daging tersebut dimasak kurang matang.
Selain penularan dari hewan ke manusia, Virus Nipah juga diketahui dapat menular dari manusia ke manusia.
Ini terjadi melalui kontak langsung dengan pasien yang terinfeksi, terutama ketika pasien berada dalam kondisi
yang menghasilkan banyak sekali cairan tubuh, seperti air liur.
Gejala Virus Nipah diantaranya:
a. Demam
b. Sakit tenggorokan
c. Hilang sadar
d. Sakit kepala
e. Nyeri otot
f. Muntah
g. Peradangan otak muncul pada kasus berat
Pencegahan penyakit virus Nipah melalui langkah-langkah berikut:
a. Tidak mengonsumsi nira/aren langsung dari pohonnya karena kelelawar dapat mengontaminasi
sadapan aren/nira pada malam hari, oleh karenanya perlu dimasak sebelum dikonsumsi;
b. Cuci dan kupas buah secara menyeluruh;
c. Buang buah yang ada tanda gigitan kelelawar;
d. Konsumsi daging ternak secara matang dan tidak mengonsumsi hewan yang terinfeksi virus Nipah;
e. Menerapkan protokol kesehatan seperti cuci tangan pakai sabun atau menggunakan hand sanitizer,
menerapkan etika batuk dan bersin, serta memakai masker apabila mengalami gejala, termasuk kelompok rentan;
f. Hindari kontak dengan hewan ternak (seperti babi dan kuda) yang kemungkinan terinfeksi virus Nipah,
apabila terpaksa harus melakukan kontak, maka menggunakan APD;
g. Bagi tenaga kesehatan dan keluarga yang merawat serta petugas laboratorium yang mengelola spesimen pasien terinfeksi,
menerapkan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dengan benar.
Sumber: kemenkes